Sejarah Filsafat dan Filsafat Hukum

Berbicara mengenai filsafat, berarti yang sedang dibicarakan adalah mengenai pendalaman suatu ilmu tertentu atau berbicara mengenai grand theory dari suatu ilmu. Jika ingin membahas mengenai filsafat hukum, berarti yang sedang dibahas adalah pemikiran paling mendasar dari ilmu hukum tersebut.
Namun, sebelum jauh ke sana, ada baiknya mempelajari terlebih dahulu sejarah dari filsafat itu sendiri. Artinya, untuk mengetahui kapan filsafat itu muncul pertama kali, di mana filsafat itu muncul, siapa tokoh-tokoh yang berperan dalam munculnya filsafat, dan bagaimana perkembangan filsafat dalam perkembangan zaman.
Untuk itu, hal penting yang akan dibahas untuk mengetahui hal-hal tersebut adalah, pertama, sejarah filsafat timur dan filsafat barat, kedua, sejarah filsafat zaman kuno, abad pertengahan, modern dan zaman sekarang.
A. Sejarah Filsafat Timur
Ada anggapan bahwa kita melihat pada perkembangan filsafat Timur, maka sebagian besar dari makna filsafat yang dimaksud di sini adalah filsafat sebagai pandangan hidup. Hal ini terutama tampak saat kita membahas tentang filsafat India dan Cina. Menurut Fung Yu-Lan ( 1990 :1 ) , seorang Guru Besar Filsafat Universitas Tsing Hua,dan Guru Besar Tamu Universitas Pennsylvania, pendidikan pertama yang diberikan kepada anak-anak sekolah di Cina sejak dulu kala adalah pelajaran filsafat. Bicara tentang filsafat timur , paling tidak ada lima aliran yang paling berpengaruh ,yaitu Hinduisme, Buddhisme, Konfusianisme, Taoisme,dan Islam. Hinduisme amat berpengaruh pada perjalanan filsafat India, walaupun Budhisme dan Islam juga punya andil yang tidak kecil. Adapun Buddhisme , Konfusianisme , dan Taoisme lebih banyak berkaitan dengan filsafat Cinadan Asia Timur pada umumnya, serta beberapa bagian Asia Selatan dan Tenggara.Pengaruh filsafat Islam terutama terdapat di negara-negara Timur Tengah ( Asia Barat ) , sebagian Asia Selatan dan Asia Tenggara.

1. Filsafat India
India termasuk salah satu tonggak peradaban tertua di dunia dengan situsnya di sekitar lembah sungai Indus. Kemudian datang kaum imigran ,yaitu suku bangsa Aryan dari Utara India,yang masuk ke lembah sungai Indus antara 1700-1400 SM.Kedatangan suku Aryan inimenandai satu perubahan penting dalam sejarah filsafat India.
Mereka memperkenalkan ajaran-ajaran baru yang termaktub dalam literatur suci disebut Weda (seringkali disebut´veda).Keberadaan literatur suci ini membawa pengaruh luas dalam pemikiran dan sistem kepercayaan bangsa India pada masa itu, sekaligus menjadi titik awal sejarah filsafat India.Gerak pemikiran filsafat India sudah dimulai pada zaman Weda dengan menjadikan alam semesta sebagai obyek utama pembahasannya.
Manusia dipandang sebagai bagian kecil dari alam yang maha luas ini. Sifat-sifat manusia identik dengan sifat-sifat alam itu. Hidup, menurut mereka adalah penderitaan.Karena keterikatan manusia terhadap kehidupan duniawinya.
Filsafat India banyak mempersoalkan hal-hal yang berkaitan dengan kebebasan dari ikatan duniawi itu.Filsafat India sebagian besar bersifat mistis dan intuitif. Peranan rasio baru agak menonjol pada kurun terakhir perjalanannya ,yakni setelah berkenalan dengan filsafat Barat (zaman Modern).Menurut Radhakrishnan dan Moore,ada 7 ciri yang mewarnai hampir seluruh sistem filsafatIndia,yaitu :
1.Motif Spiritual yang mendasarinya
.2.Sikap Introspektif dan pendekatan Introspektif terhadap realitas.
3.Hubungan erat antara hidup dan filsafat.
4.Idealis.
5.Hanya Intuisi yang diakui mampu menyingkap kebenaran tertinggi.
6.Penerimaan terhadap otoritas.
7.Tendensi untuk mendekati berbagai aspek pengalaman dan realitas dengan pendekatansintetis.Sejarah filsafat India dapat dibedakan dalam lima periode besar,yaitu
:1.Zaman Weda
2.Zaman Skeptisisme
3.Zaman Puranis
4.Zaman Muslim
5.Zaman Modern
Pada tahun 600 SM hingga 300 M muncul beberapa reaksi unsur kepercayaan padaajaran Weda, yang dikenal sebagai jaman Skeptisisme. Reaksi terhadap Weda ini dibedakandalam dua aliran yaitu Astika (menerima weda) dan Nastika (menolak Weda).
Astika (menerima weda)
Astika ini muncul dalam wujud enam sekolah (mazhab) ortodoks yang disebut Saddharsana.Secara kronologis mengikuti tahun diperkenalkannya, enam aliran pemikiran ini adalah : (1)Waisesika; (2) Purwa-Mimamsa; (3) Samkya; (4) Nyaya; (5) Utara Mimamsa; dan (6) Yoga.
Nastika (Menolak Weda)
Reaksi yang kontra terhadap Weda, yaitu Nastika, antara lain Carvaka, Buddhisme, dan Jainisme. Dari ketiganya Buddhisme merupakan aliran yang terpenting.

2. Filsafat China
Filsafat china bisa dibagi kedalam empat priode besar, yaitu
pertama, zaman Klasik. Zaman klasik sendiri diwarnai dengan perkembangan berbagai aliran filsafat, yakni mulai dari konfusianisme hingga pada Ming Chia.
a. Konfusianisme
b. Taoisme
c. Yin-Yang
d. Dialektik (Ming Chia).
Kedua, perkembangan selanjutnya dari filsafat di China adalah berkembangnya filsafat pembaharuan yakni dimulai pada zaman Neotaoisme dan Buddhisme. Zaman ini merupakan penafsiran baru terhadap konsep tao yang dikembangkan pada zaman klasik. Ajaran-ajaran tentang Taoisme tersebut dipelajari dan dikembangkan lagi oleh para pengikut ajaran Taoisme, sehingga disebut sebagai neotaoisme.
Ketiga, zaman Neokonfusianisme. Ajaran ini bertolak belakang dengan ajaran buddhisme. Ajaran ini adalah perkembangan lebih lanjut dari ajaran konsfusianisme yang dikembangkan oleh para pengikut konfusianisme.
Keempat, zaman Modern. Zaman modern ini adalah perkembangan yang lebih lanjut dari filsafat-filsafat China, yang sudah mulai tercampur dengan filsafat barat, di mana China mulai dipengaruhi ajaran filsafatnya dengan masuknya Inggris ke daratan China.

B. Filsafat Barat
Sejarah perkembangan filsafat barat pada awalnya muncul di yunani. Yunani dikenal sebagai tonggak sejarah munculnya filsafat barat. Pada awal mulanya, kehidupan masyarakat Yunani dan barat pada umumnya belum mengenal filsafat yang menggunakan rasio. Semua aspek kehidupan hanya sebatas pada mitos dan hal-hal gaib.

Namun seiring perkembangan, masyarakat mulai mengenal filsafat dari usaha-usaha yang dilakukan berdasarkan pengalaman-pengalaman hidup. Zaman ini disebut sebagai zaman pra sokrates, di mana orang-orang Yunani pada saat itu mulai meninggalkan mitos-mitos dan menggunakan rasio untuk menjawab setiap persoalan hidup yang terjadi, termasuk ilmu pengetahuan.
Setelah zaman ini, barulah muncul seorang tokoh Yunani yaitu Socrates (470-399 SM), kemudian plato (427-327 SM) dan Aristoteles (384-322 SM) yang mulai banyak berbicara tentang filsafat, dan mencoba menjelaskan segala sesuatu termasuk ilmu dengan berlandaskan pada rasio, serta mencona menemukan nilai-nilai tetap yang menjadi norma bagi manusia.

C. Sejarah Filsafat Hukum
1. Zaman kuno
Sejarah filsafat hukum kuno tidak bedanya dengan filsafat barat, dimulai pula dari Yunani, yakni dengan berkembangnya zaman pra sokrates dan berkembang hingga pada zaman Socrates dan pengikut-pengkiutnya.
Zaman keemasan Yunani diawali oleh tokoh pemikir Sokrates (470-399 SM), yang diikuti oleh Plato (427-347 SM) dan Aristoteles (384-322 SM). Pada era Sokrates, kehidupan bermasyarakat sudah jauh berkembang dengan adanya interaksi antar individu yang lebih intensif, terutama dalam polis-polis.
Sokrates lahir di Athena, pada masa itu di polis Athena telah banyak berdatangan orang-orang sofis, dengan tokoh-tokoh antara lain Protagoras (480-411 SM),Gorgias (480-380 SM), dan Prodikos.
Sokrates gemar menghadiri dan aktif dalam perdebatan dengan kaum sofis tersebut. Kaum sofis menyangkal adanya nilai-nilai tetap mengenai baik dan buruk, adil dan tidak adil. Sokrates membenarkan bahwa nilai-nilai yang berkembang dalam masyarakat memang tidak dapat tahan terhadap kritik. Tetapi di dalam hatinya, ia merasa bahwa nilai-nilai yang tetapitu pasti ada, yang menuju kepada tercapainya suatu norma, yaitu norma yang bersifat mutlak dan abadi, suatu norma yang sungguh-sungguh ada di dalam arti absolut.
Tujuan hidup Sokrates ialah menemukan norma itu, yang ada di dalam diri manusia sendiri. Karena kepandaian Sokrates dalam berdebat dengan mengalahkan kehebatan retorika kaum Sofis, banyak orang berguru kepadanya, banyak murid Sokrates yang kemudian menjadi pemikir ulung seperti Plato,Euclides (lahir 300 sekitar SM), Antithenes (445-365 SM) dan Aristippos.
Persoalan yang dipertanyakan Sokrates tidak lagi tentang inti alam atau keberadaan manusia di alam semesta seperti jaman filsuf alam, tetapi sudah bergeser kepada pertanyaan tentang bagaimana manusia dapat hidup dengan baik dalam masyarakat (khususnya dalam polis) agar tercapai keadilan dan kemakmuran. Dalam diskusi denganm urid-muridnya, Sokrates banyak mengemukakan pemikiran yang menentang kebijakan penguasa dan kepercayaan masyarakat Yunani pada masa itu.
Filsafat Sokrates senantiasa berusaha mencari hakikat kebenaran.Salah satu murid Sokrates yaitu Plato memiliki nama kecil Aristokles karena latar belakangnya berasal dari kalangan aristokrat yang memiliki peranan politik penting di Yunani.
Sewaktu muda, Plato mendalami ajaran pantharei yang diperoleh dari Kratylos murid dari Herakleitos. Karena ajaran ini tidak memenuhi hasrat intelektual Plato maka pada usia 20 tahun ia beralih belajar pada Sokrates di Athena.Dasar ajaran Plato adalah budi yang baik. Budi adalah tahu. Orang yang berpengetahuan dengan sendirinya berbudi baik. Pengetahuan tersebut diperoleh melalui proses dialektika yang kemudian menimbulkan tingkat yang lebih tinggi daripada sekedar pengetahuan yang disebut budi tersebut.
Menurut Plato, filsafat tidak lain adalah ilmu yang berminat mencapai kebenaran yang asli.Dalam pandangan Plato, tujuan hidup adalah mencapai kesenangan hidup yang diperoleh dengan pengetahuan yang tepat tentang nilai barang-barang yang dituju. Apa yang baik bagi seseorang, juga baik bagi masyarakat, antara kepentingan perseorangan dan masyarakat tidak boleh ada pertentangan. Pemikiran Plato diteruskan oleh seorang muridnya Aristoteles.
Di Athena, Aristoteles membuka sekolah baru yaitu Lukeion.Tidak mengherankan bahwa pemikiran cemerlang Aristoteles memunculkan berbagai bidang filsafat yang baru, Menurutnya, filsafat adalah ilmu yang meliputi kebenaran, yang terkandung di dalamnya ilmu-ilmu matematika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan hukum. Selanjutnya, perkembangan filsafat hukum yunani masuk pada era Hellenisme. Hellenisme adalah zaman keemasan kebudayaan Yunani. Tokoh yang berjasa dalam pengembangan kebudayaan Yunani adalah Iskandar Agung (356-323 SM) dari Macedonia, salah satu murid Aristoteles.
Pada masa Hellenisme terdapat tiga aliran filsafat yang menonjol yaitu :(1) Stoisisme, (2) Epikurisme, dan (3) Neoplatonisme. Di samping ketiga aliran tersebut, terdapat pula gerakan berpikir yang disebut Skeptisisme dengan pelopornya Pyrrho (365-275 SM) dan Elektisisme oleh Cicero (106-43 SM). Dari zaman Hellenisme, berlanjut pada zaman Patristik. zaman ini dibedakan menjadi 2 bagian yaitu (1) Patristik Yunani yang berpusat diAthena dan (20 Patristik Latin yang berpusat di kota Roma (Italia). Dalam memandang filsafat Yunani kuno, terdapat perbedaan sikap dari pemuka agama Kristen.
Sikap pertama bersifatmenolak karena beranggapan filsafat Yunani itu bertentangan dengan wahyu Ilahi. Sikap kedua lebih bersifat kompromi dengan menyatakan terlepas dari pertentangan yang ada antara filsafatYunani tersebut tetap diperlukan sebagai pembuka jalan kepada penerimaan Injil.
Dua sikap initerdapat baik pada Patristik Yunani dan Latin.Tokoh Patristik Yunani (juga disebut Patristik Timur) yang terkenal adalah Clemens (150-215 M) dan Origenes (185-254 M). Selain itu terdapat pula tokoh-tokoh terkemuka para pemimpin gereja dari Cappodocia yaitu Basilius nan Agung, Gregorius dari Nazianze (lahir 390 )dan Gregorius dari Nyssa (lahir 395).
Untuk Patristik Latin (juga disebut Patristik Barat), selain Aurelius Agustinus, muncul nama seperti Tertullianus (160-222). Tertullianus merupakan contoh penentang keras keberadaan filsafat Yunani. Baginya, semenjak tampilnya Kristus, filsafat hanya akan membingungkan atau bahkan menyesatkan.
2. Abad Pertengahan
Dimulai setelah keruntuhan Kerajaan Romawi abad ke-5 M. Dikatakan sebagai Abad Pertengahan karena pada jaman ini berada di tengah-tengah dua zaman yaitu jaman kuno danzjaman modern.
Abad Pertengahan ini sejalan dengan berkembangnya periode filsafat yang disebut Skolastik, yaitu masa keemasan agama Kristen di Eropa. Puncak keemasan agama Kristen sebenarnya sudah dimulai pada paruh terhakir zaman kuno yang disebut masa Patristik.
Abad Pertengahan tidak membawa reputasi yang menguntungkan bagi perkembangan filsafat karena dominasi yang terlalu kuat dari para rohaniawan, sehingga segala sesuatu yang yang bertentangan dengan pendapat mereka adalah dosa yang harus dimusnahkan
Filsafat kaum Skolastik merupakan pertemuan antara pemikiran Aristoteles (yang hidup kembali melalui filsuf-filsuf Islam dan Yahudi) dan iman Kristiani. Pertemuan ini menghasilkan filsuf penting. Mereka sebagaian berasal dari kedua ordo baru yang lahir pada Abad Pertengahan yaitu para Dominikan dan fransiskan. Filsafat mereka disebut Skolastik karena dalam periode ini filsafat diajarkan dalam sekolah-sekolah biara dan universitas-universitas menurut suatu kurikulum yang tetap dan bersifat internasional. Tokoh-tokoh Skolastik antara lain Albertus magnus alias Albert Agung (1206-1274), dan Bonoventura (1221-1257), Thomas Aquinas(1225-1274) dan Yohanus Duns Scotus (1266-1308).
Tema-tema pokok dari ajaran mereka adalah hubungan antara iman dan akal budi, adanya dan hakikat Tuhan, antropologi, etika dan politik serta hukum. Selain mereka juga disebutkan pula Boethius (480-524) yang merupakan filsuf pertama Skolastik.

3. Zaman Modern
Ditandai dengan pemberontakan terhadap dominasi kebenaran yang dipegang kaum rohaniawan. Salah satu tonggak penting pemberontakan itu adalah Revolusi Copernicus dalam dunia astronomi. Nicolaus Copernicus (1473-1543) dengan berani menentang pandangan geosentris (berpusat pada bumi) dan memperkenalkan pandangan Heliosentris (berpusat padamatahari). Filsafat zaman modern ini bermula dari tahun 1500 sampai dengan 1800 M. Zaman modern ini diawali oleh masa Renesanse, diikuti zaman Barok, Aufklarung dan diahkiri zaman Romantik.
Zaman Renesanse (sering dieja dengan Renaisssance atau Renesance) berarti lahir kembali yaitu dilahirkan kembali sebagai manusia yang bebas untuk berpikir dan berkesenian. Tokoh-tokoh pada masa ini adalah Johannes Kepler (1571-1630) dan Galileo Galilei (1564-1642) yang mendukung teorinya Copernicus.
Pemikiran yang revolusioner dari Copernicus, Kepler dan Galilei ini terjadi juga dalam dunia hukum, khususnya hukum internasional dan tata negara.Tokoh utama dalam bidang ini antara lain Hugo de Groot (1583-1645), Niccollo machiavelli(1469-1527) dan Thomas moore (1478-1535).
Revolusi lebih lanjut di bidang sains dikemukakan oleh Francis Bacon (1561-1626) yang merupakan perintis filsafat ilmu. Bacon memperkenalkan ilmu-ilmu empiris yaitu logika induktif. Bacon menolak penggunaan silogisme yang tidak mengajarkan kebenaran-kebenaran baru, tetapi ia tetap bernilai jika dilihat dari segi pengajaran.
Zaman Barok Dikenal dengan era rasionalisme dengan tokoh-tokoh antara lain Rene Descrates (1596-1650), Spinosa (1632-1677) dan Leibniz (1646-1650). Descrates alias Cartesius dikenal sebagai Bapak filsafat Modern. Menurutnya ilmu (termasuk filsafat) dapat dipahami lebih baik, mutlak diperlukan suatu metode yang baik melalui cara berpikir sungguh-sungguh dengan meragukan segala-galanya sehingga pada ahkirnya didapat pengertian yang terang dan jelas. Descrates juga memperkenalkan metode berpikir deduktif untuk ilmu-ilmu alam.
Perkembangan selanjutnya melahirkan zaman Fajar Budi (Aufklarung). Disebut sebagai periode pematangan rasio manusia dan dikenal sebagai masa Empirisme.Tokoh-tokoh pada masa ini antara lain Thomas Hobbes (1588-1679), John Locke (1632-1704). George Berkeley (1684-1753), David Hume (1711-17776), J.J Rousseau (1712-1778) dan Immanuel Kant (1724-1804). Tokoh-tokoh tersebut merupakan kaum empirik yang menganggap rasio saja tidak cukup untuk mencari kebenaran tapi harus dengan pengalaman juga.
Dari zaman aufklarung, berkembang lagi era masa romantik. Disebut zaman idealisme dengan tokoh-tokohnya seperti Fichte (1762-1814), F. Schelling(1775-1854) dan Hegel (1770-1831). Idealisme ini sesungguhnya berangkat dari reaksi terhadap pemikiran Kant.

4. Zaman Sekarang
Pada zaman ini, perkembangan filsafat hukum sudah semakin maju, masa ini dibagi menjadi dua masa yaitu perkembangan filsafat hukum abad 19 dan abad 20.
Filsafat hukum abad 19 terdiri dari:
a. Positivisme. Positivisme dapat dimasukkan sebagai pendukung pemikiran yang mengutamakan empiris daripada rasio. Positivisme menggunakan logika berpikir induktif.
Menurut positivisme, pengetahuan manusia tidak boleh melewati fakta-fakta. Tugas filsafat adalah mempersatukan berbagai corak ilmu yang ada memalui suatu sistem yang berlaku umum, sehingga ilmu-ilmu itu dapat saling memahami dan bekerja sama.
Tokoh utama positivisme adalah Aguste Comte (1798-1857) dari Perancis. Menurutnya ada enam ilmu pokok yaitu (a). matematika, (b) astronomi, (c) fisika, (d) kimia, (e) biologi, dan (f) sosiologi.
Descrates memperkenalkan dikotomi antara subyek dan obyek. Subyek memiliki kesadaran (rescogitans) dan obyek adalah benda yang diamati (res extensa). Dia juga menambahkan unsur ketiga yang penting yaitu Ketuhanan sebagai substansi yang paling sempurna. Ia menyatakan bahwa pemikiran manusia pada umumnya melewati tiga jenjang yaitu: (1) teologis (manusia menyerahkan bimbingan pemikkirannya pada hal-hal yang irasional), (2) metafisis (manusia menggunakan prinsip-prinsip yang abstrak untuk menjelaskan fakta), (3) positif + ilmiah. Jadi positivisme merupakan jenjang tertingi dari pemikiran manusia.Tokoh penting positivisme di Inggris adalah john Stuart Mill (1806-1873) dan Herbert Spencer (1820-1903). Menurut J.S mill, ilmu dapat dibedakan dalam dua kategori yaitu ilmu alam dan ilmu rohani.
b. Marxisme. Perintis aliran ini adalah Karl Marx(1818-1883) dan Friedrich Engels (1820-1895). Marxadalah tokoh pertama yang mengaitkan filsafat dengan ekonomi, filsafat tidak boleh statis, tetapi harus aktif membuat perubahan-perubahan. Hakikat manusia adalah kerja (homo laborans,homo faber) jadi ada ikatan erat antara filsafat, sejarah dan masyarakat. Pemikiran Marx dikenal dengan materialisme historis atau materialisme dialektika. Dalam perkembangan ini melahirkan Komunisme.
c. Pragmatisme. Penganut pandangan pragmatisme menyatakan bahwa yang penting bukan apa itu tetapi apa kegunaannya. Dengan demikian, ukuran benar atau salah suatu pemikiran bergantung padasejauh mana pemikiran itu berguna.Aliran ini populer di Amerika Serikat dan tokohnya adalah William James (1842-1910) dan Ch.S.Pierce (1839-1914). Menurut James, sesungguhnya tidak ada kebenaran yang sifatnya umum dan mutlak. Jadi ukuran kebenaran itu adalah kebenaran berdasarkan pengalaman manusia dan kebenaran demikian ditentukan oleh seberapa jauh manfaatnya bagi manusia.
Filsafat hukum abad ke-20 ini bercorak logosentrisme. Banyak filsuf berpendapat bahwa bahasa adalah objek terpenting pemikiran mereka. Filsafat diartikan sebagai suatu teks yang harus ditafsirkan.Dengan demikian filsafat menjadi filsafat mengenai filsafat atau hermeneutika. Susanne K.Langer menyatakan tahap ini merupakan tahap simbol. Dalam abad ke-20 ini diperkenalkan pendekatan komplementer seperti hermeneutika dan fenomenologi. Beberapa aliran filsafat abadke-20 ini adalah (1) Neokantianisme, (2) Fenomenologi, (3) Eksistensialisme, (4) Strukturalisme.
a. Neokantianisme. Merupakan aliran filsafat barat yang berkembang di Jerman dan dikembangkan oleh duakubu yaitu kubu sekolah Marburg dan sekolah Baden. Di Universitas Marburg, filsafat Kant dijadikan titik pangkal untuk perkembangan baru epistemologi dan kritik ilmu pengetahuan.Tokoh-tokoh Neokantianisme gaya Marburg adalah Herman Cohen (1842-1918), Paul Natrop (1854-1924) dadn Ernst Cassirer (1874-1954). Di universitas Freiburg dan Heildelberg (terletak di Baden), filsafat Kant merupakan titik pangkal untuk kritik ilmu seperti ilmu alam (naturwissenschaften) dan ilmu kebudayaan (kulturwissenchaften). Wakil Neokantianisme sayap ini adalah Wilhelm Windelband (1848-1911), Heinrich Rickert (1863-1936) dan Bruno Bauer (1877-1942).
b. Fenomenologi. Merupakan aliran filsafat yang dekat dengan eksistensialisme dan mengungkapkan pentingnya unsur intuisi. Tokoh utama aliran ini adalah Edmund Husserl (1859-1938). Istilah fenomenologi berasal dari J.H Lambert (1764). Husserl berpendapat bahwa fenomenologi diterapkan untuk ilmu-ilmu manusia dan budaya bukan ilmu-ilmu empiris.
c. Eksistensialisme. Inti dari eksistensialisme adalah keyakinan bahwa filsafat harus berpangkal pada adanya (eksistensi) manusia yang konkret, dan tidak pada hakikat (esensi) manusia pada umumnya.Eksistensialisme mendapat pengaruh yang kuat dari positivisme yang mementingkan peranan pengalaman (empiri).
Corak filsafatnya juga antroposentris yaitu berpangkal tolak pada manusia.Eksistensialisme memandang bahwa eksistensi itu hanya dimiliki oleh manusia, adapun benda- benda lain tidak mempunyai arti tanpa manusia. Pendapat Descrates yang menyatakan : “saya berpikir maka saya ada”, diganti oleh aliran ini dengan : “saya ada, maka saya berpikir”. Tokoh utama aliran ini adalah Soren Kierkegaard (1813-1855), seorang filsuf Denmark. Tokoh lainnya adalah F. Nietzsche (1844-1900), J.P Sartre (1905-1980), G. Marcel (1889-1973) dan M. Ponty (1908-1961).
Di Jerman ada aliran filsafat eksistensi yang tidak mau disamakan dengan eksistensialisme, tokoh-tokhnya antara lain M. Heidegger (1889-1976) dan Karl Jaspers (1883-1969). Heidegger memakai metode fenomenologis untuk menyelidiki struktur-struktur adanya manusia. Struktur-sturktur ini disebut eksistensial-eksistensial. Oleh karena itu filsafat Heidegger kadang disebut filsafat eksistensial, sedangkan filsafat Jaspers disebut filsafat eksistensiil.
d. Strukturalisme. Aliran ini diperkenalkan oleh ahli bahasa dari Swiss, Ferdinand Mongin de Saussure (1857-1913). Para filsuf strukturalisme tidak memandang manusia sebagai pusat kenyataan, pusat pemikiran, kebebasan, tindakan dan sejarah. Manusia didesentralisasikan, diturunkan dari tahtanya sebagai pusat kenyataan. Manusia digambarkan sebagai hasil struktur-struktur, tidak lagi sebagai pencipta struktur-struktur tersebut. Selain saussure, pendukung lain strukturalisme adalah M.Foucault (lahir 1926), J.Lacan (lahir 1901) dan Louis Althusser (lahir 1918).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s